Masyarakat adat serta pegiat lingkungan menilai kebijakan tersebut berpotensi mengarah pada privatisasi kawasan wisata dan mengancam keseimbangan ekosistem serta hak masyarakat lokal.
• Upaya Konservasi: Kolaborasi Ilmuwan dan Masyarakat Adat
Meski menghadapi tantangan besar, upaya penyelamatan Komodo terus berjalan.
Populasi di dalam Taman Nasional Komodo (terutama di Pulau Komodo dan Rinca) dilaporkan masih relatif stabil berkat pengawasan ketat otoritas TNK.
Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan bahwa pelibatan masyarakat lokal menjadi kunci utama.
Dalam tradisi setempat, Komodo dianggap sebagai“saudara sepupu manusia”, sebuah kearifan lokal yang menjadi fondasi penting dalam praktik etno-konservasi.
Selain itu, penegakan hukum terhadap perburuan satwa mangsa Komodo dan perdagangan ilegal juga diperkuat untuk menjaga keseimbangan rantai makanan di habitatnya.
Komodo, sang“Naga Terakhir di Dunia”, kini berada di persimpangan antara keberlanjutan ekosistem dan laju modernisasi.
Masa depan ikon nasional ini akan sangat bergantung pada keberhasilan mitigasi perubahan iklim global dan komitmen kebijakan lokal yang berpihak pada kelestarian alam Nusa Tenggara Timur.***