nasional

Jelang Muktamar NU, MA IPNU Tegaskan Persatuan Lebih Penting dari Perebutan Jabatan

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 16:46 WIB
Silatnas MA IPNU 2026 menyerukan Muktamar NU ke-35 berlangsung damai (Promedia Group)

Silatnas juga menghasilkan semangat bersama agar kontestasi kepemimpinan tidak menimbulkan perpecahan di tubuh Nahdlatul Ulama.

• NU Dinilai Butuh Manajer yang Andal

Selain membahas mekanisme pemilihan, forum juga menyoroti tantangan NU memasuki abad kedua.

Para peserta berpandangan bahwa organisasi sebesar NU membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memiliki kapasitas keilmuan dan ketokohan, tetapi juga kemampuan manajerial yang kuat untuk mengelola organisasi secara profesional.

Kepemimpinan yang adaptif dinilai menjadi modal penting agar NU mampu menjawab berbagai tantangan kebangsaan, sosial, ekonomi, hingga perkembangan teknologi.

• Kader Pesantren dan Pergerakan Dinilai Layak Memimpin

Silatnas MA IPNU juga menegaskan pentingnya regenerasi kepemimpinan NU yang lahir dari tradisi pesantren dan proses kaderisasi organisasi.

Forum menilai NU perlu dipimpin oleh kader-kader yang tumbuh dari lingkungan pesantren sekaligus ditempa melalui organisasi kader seperti IPNU, PMII, dan GP Ansor sehingga memahami karakter, kultur, serta dinamika jam'iyah secara utuh.

• Muktamar Harus Riang Gembira

Salah satu pesan yang mengemuka dalam Silatnas adalah ajakan agar Muktamar NU menjadi pesta demokrasi yang penuh persaudaraan.

Seluruh peserta sepakat tidak boleh ada praktik saling menjegal ataupun upaya yang berpotensi memecah belah warga NU. 

Baca Juga: PBNU Tunjuk Asrorun Ni'am Jadi Rais Karteker PWNU Jambi, Dinilai Sinyal Kuat Regenerasi Kepemimpinan NU

Semangat siap menang, siap kalah menjadi komitmen yang terus digaungkan. Siapa pun yang terpilih sebagai Ketua Umum PBNU nantinya harus didukung bersama, sementara yang belum mendapatkan amanah tetap dirangkul sebagai bagian dari kekuatan besar Nahdlatul Ulama.

Ketua IPNU Jawa Timur periode 1988 -1992, Sudarsono Rahman mengatakan, Muktamar bukan sekadar ajang memilih pemimpin, melainkan momentum memperkuat persatuan organisasi.

"Bukan persoalan siapa tokoh yang akan memimpin NU, tapi, dari ajang ini mari kesolidan antar lini semakin kuat hingga ke akar rumput," tegas aktivis NU Jawa Timur tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini