“Putus, papan nabrak bak truk, kena baknya sedikit, terus dia nggak masuk ke bak truknya tapi malah keluar,” jelas Yuke.
Ia menjelaskan, area tepat di bawah alat pengangkat seharusnya merupakan kawasan yang steril dari aktivitas pekerja karena memiliki potensi bahaya jika terjadi kegagalan pada komponen crane.
“Harusnya posisi di bawah sekitar steril, tapi entah kenapa tiba-tiba ada yang lewat,” katanya.
Baca Juga: Temui Serikat Buruh di Jakarta, Kapolri Dorong Dialog dalam Pembahasan RUU Ketenagakerjaan
Yuke menyebut jarak antara posisi crane dengan aktivitas orang di sekitar lokasi memang relatif berdekatan sehingga kewaspadaan terhadap pergerakan alat menjadi sangat penting.
Menurutnya, korban bukan merupakan operator crane yang bertugas mengoperasikan alat pengangkat tebu tersebut.
Ia mengatakan operator maupun pekerja yang sudah berpengalaman biasanya memahami risiko dan tidak akan berada tepat di bawah alat pengangkat ketika crane sedang beroperasi.
“Namanya risiko, sekecil apa pun, kejatuhan tetap ada, walaupun yang bersangkutan sudah pakai helm, ya namanya musibah itu nggak ada yang tahu,” ujarnya.
Pihak PG Rendeng menegaskan bahwa pemeriksaan terhadap peralatan crane dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh komponen dalam kondisi layak digunakan selama musim giling.
Pemeriksaan tersebut juga dilakukan dengan melibatkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jawa Tengah sebelum peralatan digunakan dalam kegiatan operasional.
Yuke menyatakan pihak pabrik memiliki dokumen pemeriksaan yang menunjukkan bahwa crane beserta komponen pendukungnya telah dinyatakan layak digunakan.
“Kami setiap tahun ini ada dokumennya, kami periksakan di Disnaker, dan seluruh komponen pada crane ada surat keterangan,” katanya.
Untuk sementara, PG Rendeng menghentikan penggunaan alat yang berkaitan dengan kecelakaan tersebut hingga proses penyelidikan selesai dilakukan.
Penghentian dilakukan sambil menunggu penyelidikan kepolisian guna memastikan penyebab putusnya sling serta rangkaian kejadian yang mengakibatkan papan pengangkat tebu jatuh dan mengenai korban.
“Sudah ada tim Inafis dan penyelidikan dari Polres Kudus, saksi-saksinya juga sedang diperiksa. Sementara ini aktivitas pengangkatan tebu berhenti, dan alat nggak saya gunakan dulu, Dari empat meja, hanya tiga meja yang kita fungsikan,” pungkasnya.