Peluang menguntungkan bagi Indonesia
Kementan juga mencatat mahalnya harga energi dan pupuk dunia memaksa sebagian petani di kawasan Asia Tenggara menunda masa tanam. Hal ini yang turut mengurangi pasokan beras di lumbung dunia.
Baca Juga: Pesan Prabowo ke Menpora: Perbaiki Kompetisi Agar Hasilkan Timnas yang Bisa Lolos Piala Dunia
Kontraksi produksi secara langsung ikut menggerus cadangan beras dunia. FAO memperkirakan stok beras dunia pada akhir 2026/2027 akan turun menjadi 213,8 juta ton dari 219,7 juta ton pada musim sebelumnya, atau terkoreksi sebesar 2,7 persen.
Perdagangan beras dunia pun ikut mengempis 2,1 persen menjadi 59,8 juta ton, seiring dengan makin banyaknya negara importir yang memperketat kebijakan demi memproteksi pasar domestik mereka.
Kementan meyakini fenomena kawasan ini menjadi peluang sangat menguntungkan bagi Indonesia. FAO memproyeksikan sejumlah negara tetangga akan menaikkan volume impor berasnya tahun ini, termasuk di antaranya Filipina dan Malaysia.
Filipina, yang saat ini menjadi salah satu importir beras terbesar dunia dan letaknya tepat di sebelah utara Indonesia, diperkirakan harus menambah pembelian justru di saat produksinya tertekan.***
Artikel Terkait
Prabowo Terima Kunjungan Jusuf Kalla, Siap Partisipasi Bangun Energi Hijau
Prabowo Sambut Kedatangan Presiden Jerman Steinmeier dengan Upacara Kenegaraan dan 120 Pasukan Berkuda
Prabowo Ingin Perluas Peluang Kerja WNI ke Jerman hingga Sektor Teknologi Tinggi
Prabowo: Indonesia-Jerman Berkomitmen Kerja Sama Jaga Perdamaian Dunia
Prabowo Ajak Jerman Perluas Investasi di Energi Terbarukan hingga Kendaraan Listrik
Prabowo dan Presiden Jerman Sepakat Tingkatkan Perdagangan Indonesia-Jerman