JOMBANG, MOCOSIK.COM - Deru mesin sepeda motor dan bau asap knalpot telah menjadi bagian dari keseharian para pedagang lesehan di Pasar Pon Jombang.
Alih-alih menempati kios permanen di bangunan pasar baru yang disiapkan pemerintah, puluhan pedagang justru memilih bertahan berjualan di area parkir.
Bagi para pedagang, aspal parkiran bukan sekadar ruang lalu-lalang kendaraan, melainkan titik strategis yang dinilai lebih menjanjikan perputaran uang.
Lokasinya yang berada di jalur utama keluar-masuk pasar dianggap mampu menarik perhatian pembeli secara langsung.
Baca Juga: Usai Audiensi Dua Jam, Pemkab Jombang Relokasi Pedagang Pasar Ploso ke Area Dishub
Dari pantauan di lokasi, kios atau bedak yang telah disediakan pemerintah tampak banyak yang kosong. Sebaliknya, area parkir justru dipenuhi lapak pedagang lesehan yang berjualan sejak pagi hingga siang hari.
Salah satu pedagang lesehan mengaku, keputusan bertahan di area parkir diambil melalui pertimbangan matang.
Meski menyadari risiko penertiban dan gangguan kenyamanan, kekhawatiran dagangan tidak laku dinilai jauh lebih besar.
"Kalau pindah ke tempat baru di belakang, takutnya tidak laku. Tempatnya jauh dan jarang orang mau ke sana. Kalau di parkiran, orang turun dari kendaraan langsung lihat dagangan kami,"ujar S, Selasa (27/1/2026).
Aksesibilitas menjadi alasan utama para pedagang enggan berpindah. Mereka menilai, desain pasar baru justru menjauhkan lapak dari arus utama pengunjung.
Bahkan, area parkir dianggap sebagai gerbang awal interaksi antara penjual dan pembeli.
Kondisi ini mencerminkan dilema klasik dalam penataan pasar tradisional, yaitu antara ketertiban tata ruang dan kebutuhan ekonomi pedagang kecil. Di satu sisi, pemerintah berupaya menata pasar agar lebih rapi dan nyaman.