JAKARTA, MOCOSIK.COM – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, mengajak perguruan tinggi teologi di Indonesia untuk mengembangkan pendekatan ekoteologi yang menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Hal itu disampaikan Menag dalam pertemuan bersama para pimpinan Perguruan Tinggi Teologi, di kantor pusat Kemenag, Lapangan Banteng, Jakarta.
"Kami membutuhkan bahasa religi untuk meminta orang-orang untuk mempertahankan krisis perhubungan kita hari ini. Jadi, ini adalah Ekoteologi, Ekoteologi berdasarkan kemajuan manusia dan keluarga,"terangnya, Kamis (8/5/2025).
Baca Juga: Menag dan Menkum Tandatangani MoU Sinergi Pelaksanaan Tugas dan Fungsi di Bidang Agama dan Hukum
Menurutnya, banyak persoalan sosial dan lingkungan saat ini berakar dari relasi manusia yang semakin menjauh dari nilai-nilai spiritual.
"Kami berpindah dari Teologi maskulin ke Teologi feminin. Saya pikir ini sangat berkompat dengan kepercayaan kita. Bagi saya, Islam dan Kristianitas hampir sama pada dasarnya,"kata Menag.
Nasaruddin Umar juga mengkritisi praktik pengajaran agama yang menanamkan kebencian antarumat.
"Untuk saya, jika kita ingin mengajar kebijaksanaan di Indonesia, kita harus mulai dari cinta. Jadi, substansi pejabat, substansi religi adalah cinta,"tambahnya.
Ia juga mengingatkan, bahwa ancaman terbesar umat manusia saat ini bukan hanya perang, tetapi juga krisis lingkungan akibat perubahan iklim.
"Menurut ilmuwan lingkungan, 1 juta orang meninggal gara-gara perubahan klimat. Sebagai pemimpin, kita harus bimbangkan apa yang akan terjadi pada masa depan jika kita tidak menjaga lingkungan kita,"pungkas Menag Nasaruddin Umar.***
Artikel Terkait
Menag Yaqut Cholil Qoumas Lantik 29 Ribu Pegawai PPPK: Tetap ikhlas Mengabdi ke Bangsa
Memasuki Tahun Politik, Menag Ingatkan Jangan Pilih Pemimpin yang Gunakan Agama untuk Kekuasaan
Menag Raih Penghargaan GATRA Award 2023 Kategori Transformasi Digital Layanan Keagamaan
Surat Edaran Terbit, Menag Minta Seluruh ASN Kemenag Sosialisasikan Larangan Judi Online
Angka Perceraian di Indonesia Meningkat, Menag: Penghulu Bukan Hanya Catat Nikah