Ia lantas mengibaratkan pada sebuah rumah yang memiliki kerusakan pada pintu, jalan keluarnya adalah memperbaiki pintu tersebut, bukan merobohkan rumah.
“Kalau rumah pintunya rusak, yang perlu dibenerin pintunya apa rumahnya dirobohkan? Pintunya yang dibenerin, bukan rumahnya yang dirobohkan,” tutur Gus Miftah.
“Kalau programnya ini ada yang salah, programnya yang dihentikan atau salahnya yang diperbaiki? Salahnya yang diperbaiki. Dan perlu diingat, MBG itu program, bukan proyek,” tandasnya.
Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau 61,2 juta penerima manfaat di 38 provinsi hingga 27 Februari 2026 melalui 24.368 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
Presiden Prabowo saat Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat menyebut bahwa MBG berhasil membuka 1 juta lapangan kerja, di mana satu SPPG rata-rata mampu menyerap sekitar 50 orang.
Pelaksanaan MBG ini didukung oleh 28 kementerian dan lembaga sesuai Perpres Nomor 115 Tahun 2025 dan Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2025.
Menurut Menko Pangan Zulkifli Hasan, program MBG berpotensi mendorong aktivitas ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM, BUMDes, koperasi nelayan, serta peternak mandiri sebagai pemasok bahan pangan.***
Artikel Terkait
173 SPPG di Sumut Alihkan Lebih dari 340 Ribu Paket MBG untuk Korban Bencana
Program MBG di Desa Dapurkejambon Dihentikan Sementara, Ini Penyebabnya
Realisasi Anggaran MBG di Triwulan I 2026 Capai Rp60 T, Ekonomi Siap Terdongkrak
Polres Jombang Resmikan 3 SPPG Baru, Dukung Program MBG Presiden Prabowo Subianto
Prabowo Cerita soal MBG, Danantara, hingga Pemberantasan Korupsi di Depan Pengusaha AS