“Kalau lagi kerja itu pasti ada rasa khawatir. Kepikiran terus rumah banjir, kepikiran anak istri. Tapi mau gimana, kalau khawatir terus, kerja juga jadi enggak fokus,” katanya.
Kekhawatiran itu mencapai puncaknya pada akhir 2022. Saat banjir besar datang, istrinya yang tengah hamil besar harus dievakuasi dengan cara dibopong menggunakan kasur ke rumah orang tua. Tak lama berselang, rumah mereka roboh.
“Waktu itu ya sudah, yang penting keluarga selamat dulu. Rumah bisa dicari lagi, tapi kalau keluarga kenapa-kenapa itu yang enggak tergantikan,” kenangnya.
Setelah peristiwa itu, Warsana dan keluarga sempat mengungsi, menumpang di rumah orang tua dalam kondisi serba terbatas. Lebaran demi Lebaran pun terasa lewat begitu saja, tanpa rasa aman.
Kini, di rumah barunya, suasana itu berubah total. Lebaran dirayakan sederhana, namun penuh makna. Tanpa genangan air, tanpa rasa cemas.
“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah, khususnya Kementerian Sosial, yang sudah peduli dengan masyarakat kecil seperti kami. Dengan adanya tempat ini, kehidupan kami jadi jauh lebih baik, lebih layak, dan lebih tenang,” ucapnya.
Di Kampung Nelayan Sejahtera, Lebaran bukan lagi tentang apa yang dimiliki, melainkan tentang rasa aman yang akhirnya bisa dirasakan. Sebuah perubahan sederhana, namun berarti besar bagi mereka yang selama ini hidup di garis ketidakpastian.***
Artikel Terkait
Pendatang Luar Kota Dipersilakan Masuk ke Jakarta Tapi Bukan Demi Bantuan Sosial Pemerintah, Ini Kata Pramono Anung
Suasana saat Prabowo dan Bill Gates Cek Makan Bergizi Gratis di Jakarta Timur
Bupati Jombang Ajak Warga di Jakarta Dukung Pembangunan Daerah
Antusias Warga Bertemu Prabowo Naik Kereta Cepat Whoosh Kembali ke Jakarta
Presiden Prabowo Sambut Presiden Peru Dina Boluarte di Istana Merdeka Jakarta