JOMBANG, MOCOSIK.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang menunjukkan kesiapsiagaan dalam menangani banjir luapan yang terjadi di sejumlah wilayah akibat tingginya curah hujan beberapa waktu lalu.
Banjir dilaporkan mulai terjadi pada Senin, 23 Maret 2026. Genangan air muncul di Desa Peterongan, Kecamatan Peterongan, serta Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben.
Air dari sungai dan saluran drainase meluap hingga menggenangi halaman rumah warga serta akses jalan desa, sehingga sempat mengganggu aktivitas masyarakat.
Menindaklanjuti laporan warga, tim Pusdalops PB BPBD Kabupaten Jombang segera melakukan koordinasi dengan pemerintah desa setempat dan menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan asesmen serta pemantauan kondisi di lapangan.
Baca Juga: BPBD Jombang dan Warga Tangani Tanggul Sungai Jebol di Plandaan Akibat Hujan Deras
Pemantauan dilakukan secara rutin setiap hari, baik pada pagi maupun sore, guna memastikan perkembangan tinggi muka air serta mengantisipasi potensi dampak lanjutan.
Kalaksa BPBD Kabupaten Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, mengatakan pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan dari masyarakat.
“Kami segera melakukan koordinasi dengan perangkat desa dan menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan assessment. Pemantauan terus kami lakukan secara berkala untuk memastikan kondisi tetap terkendali dan masyarakat mendapatkan informasi terbaru,” ujarnya.
Selama proses penanganan, BPBD bersama pemerintah desa dan masyarakat setempat terus bersinergi memantau kondisi lapangan hingga air berangsur surut.
Berdasarkan hasil pemantauan terakhir pada Jumat, 3 April 2026, kondisi banjir di seluruh wilayah terdampak telah dinyatakan surut total dan aktivitas masyarakat kembali normal.
Wiku juga mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Kami mengajak masyarakat untuk tetap waspada, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. Jika terjadi kondisi darurat, segera laporkan kepada pemerintah desa atau BPBD agar bisa segera ditangani,” katanya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat desa, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi di wilayah Jombang.***