Kisah Perjalanan Menuju Raudhah, Mengurai Rindu pada Rasulullah di Taman Surga Part 1

photo author
- Senin, 1 Juli 2024 | 09:00 WIB
Ilustrasi Kisah Perjalanan Menuju Raudhah, Mengurai Rindu pada Rasulullah di Taman Surga (kemenga.go.id)
Ilustrasi Kisah Perjalanan Menuju Raudhah, Mengurai Rindu pada Rasulullah di Taman Surga (kemenga.go.id)

Semakin coba melerai perasaan rindu ini dengan untaian shalawat, semakin terpatri di hati, sosok Rasulullah yang sangat mencintai umatnya.

Semoga kita termasuk umatnya yang mendapatkan syafaat dari Rasulullah. Begitulah doa yang dipanjatkan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Ada perasaan takjub dan tak percaya kala merindu pada lelaki pilihan, sang kekasi Allah. Ingin berlama-lama menguraikan Rindu pada Rasulullah di Taman Surga ini.

Saat berada dalam Taman Surga (Raudhah), masing-masing larut dalam kekhusukan doa-doa yang dipanjatkan, seperti berlarut dalam ‘me time’, mengadu sesenggukan semua persoalan, kemudian berlanjut menggugat, meminta belas kasih sayangNya dengan wasilah Nabiyallah.

Isak lirih bersautan mencoba mengurai rindu yang serasa sesak di dada. Terasa lega hati saat sudah mengadukan semua kepada sang Maha.

Ketika masuk dalam Raudhah, ada kalanya sebuah peruntungan yang penuh misteri. Ketika berhasil masuk dengan lancar dan mudah, merasa mendapat perkenan ridha dari Allah juga Nabi Muhammad SAW untuk berjumpa. Pun saat menemui kesulitan, bahkan tidak bisa masuk, seperti kurang diperkenankan saat itu. Ikhlaskan jika memang terjadi demikian.

Baca Juga: Tata Cara Sholat Tahajud Lengkap dengan Niat dan Doanya

Suatu waktu, kami tim Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker) Madinah, mendapat jadwal masuk sesuai tasreh (surat izin) pukul 22.00 WAS. Saat itu, semua sudah di jalur antrian masuk tepat waktu, kecuali saya dan dua orang teman lainnya. Kami bertiga (Hikmah, Khairina, Erniwati) akhirnya tertinggal rombongan karena kami datang terlambat masuk antrian.

Semua rombongan sudah di dalam, sementara lembaran tasreh dibawa bersama mereka. Kami bertiga hanya mampu terdiam sedih sambil terus bershalawat menghibur diri. Tidak tinggal diam, kami coba tanya petugas di sana, semua jawabannya‘La’“Tidak”. Meskipun kami coba jelaskan dengan bahasa yang seharusnya cukup dimengerti satu sama lain.

Tak lama tetiba menghampiri kami, sosok bercadar yang terlihat baik, langsung mengajak kami mengikuti langkahnya.“Just follow me”kata dia. Masya Allah, akhirnya kami bertiga masuk Raudhah.

Lain waktu, kami kembali memperoleh tasreh masuk Raudhah, dengan jadwal jam yang sama. Tentu kami sangat bersemangat dapat kesempatan kembali masuk Raudhah. Kami ingin“me time”di Taman Surga.

Setelah itu, kami menuju ke Raudhah satu jam lebih awal dari jadwalnya. Tapi di perjalanan menuju pintu Raudhah, di salah satu sudut pelataran Masjid Nabawi, kami temui dua orang kakek.

Keduanya ialah jemaah haji dari provinsi yang berbeda, satu berasal dari Jawa Tengah dan satunya lagi dari Lombok. Mereka berdua mengaku lupa jalan pulang ke hotel. Keduanya tidak membawa identitas. Jadi, kami butuh waktu untuk mencari tahu hotel mereka.

Selanjutnya, kami langsung putuskan menolong keduanya untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap. Artinya, tidak mungkin terburu menemui rombongan dan ikut antri bersama masuk Raudhah. Kami lupakan keinginan ke Raudhah.

Saat itu, dipikiran kami sama, belum dapat Ridha Allah untuk masuk kembali ke Taman SurgaNya. Allah lebih menginginkan dan menggerakan kami menolong dua kakek tersebut, begitu prasangka baiknya.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Rudiyanto Mocosik

Sumber: kemenag.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X