Menag Ingatkan Anak di Era Digital: Jangan Sampai HP Jadi Jalan Masuk Iblis

photo author
Jagad Hanugrah, Mocosik
- Jumat, 1 Agustus 2025 | 20:39 WIB
acara penandatanganan Nota Kesepahaman Rencana Aksi PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Sistem Elektronik untuk Perlindungan Anak (PP Tunas) (kemenag.go.id)
acara penandatanganan Nota Kesepahaman Rencana Aksi PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Sistem Elektronik untuk Perlindungan Anak (PP Tunas) (kemenag.go.id)

 


JAKARTA, MOCOSIK.COM – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan generasi muda agar bijak menggunakan Handphone di era digital.

Hal itu disampaikan Menag dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman Rencana Aksi PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Sistem Elektronik untuk Perlindungan Anak (PP Tunas).

"Handphone ini bisa ada iblisnya, bisa ada malaikatnya. Gunakan untuk kebaikan, belajar ilmu dan agama. Jangan tengok sisi iblisnya, lihat sisi malaikatnya,"terangnya di TMII, Jakarta Timur, Kamis (31/7/2025). 

Baca Juga: Menag Ajak Perguruan Tinggi Teologi Kembangkan Pendekatan Ekoteologi Berbasis Cinta

Acara ini turut dihadiri lima menteri lainnya, yaitu Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Mendagri Tito Karnavian, Mendikdasmen Abdul Mu’ti, Menteri Kependudukan Wihaji, serta Menteri PPPA Arifah Fauzi.

PP Tunas hadir sebagai respons atas meningkatnya ancaman terhadap anak di dunia digital, mulai dari konten negatif, eksploitasi data pribadi, kecanduan, hingga gangguan psikologis.

Menag mengimbau pelajar untuk saling mengingatkan ketika ada yang membuka konten negatif.

"Kalau lihat teman buka sisi iblis dari HP, tegur ya. Katakan,‘Eh, jangan, itu merusak pikiran kita,"ujarnya.

Ia juga menyarankan agar setiap aktivitas digital diawali dengan doa.

"Yang Muslim, baca Bismillahirrahmanirrahim sebelum buka HP. Kalau terbuka iblisnya, cepat pindah ke malaikatnya,"pesan Nasaruddin yang disambut tawa ringan para siswa.

Menurut Menag, teknologi bukan musuh. Justru, jika digunakan dengan bijak, HP bisa menjadi alat pembelajaran, media dakwah, bahkan pengingat ibadah.

Oleh karena itu, kerja sama antar kementerian, guru, tokoh agama, dan keluarga sangat penting dalam menjaga anak-anak dari sisi gelap dunia digital.

"Perlindungan anak tidak cukup dengan aturan. Harus ada bimbingan hati dan akhlak. Semoga kita semua tetap berpihak pada nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan digital,"pungkasnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jagad Hanugrah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X