Peluncuran LPG 3 Kg Nonsubsidi di Tengah Kelangkaan Gas Subsidi, Legislator Sebut Tindakan Super Tega

photo author
- Kamis, 27 Juli 2023 | 20:59 WIB
Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto menilai, langkah pemerintah meluncurkan produk LPG 3kg non subsidi bermerek Bright harga yang mahal (dpr.go.id)
Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto menilai, langkah pemerintah meluncurkan produk LPG 3kg non subsidi bermerek Bright harga yang mahal (dpr.go.id)

MOCOSIK.COM - Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto menilai, langkah pemerintah meluncurkan produk LPG 3kg non subsidi bermerek bright dengan harga yang lebih mahal di tengah masyarakat yang kesulitan mendapatkan gas LPG 3 kg bersubsidi, sebagai sebuah tindakan yang ia sebut“super tega” pada masyarakat.

"Kebijakan itu akan membuat pengadaan dan pendistribusian LPG 3 kg bersubsidi semakin terbatas dan sulit. Ujung-ujungnya masyarakat dipaksa membeli LPG 3 kg non subsidi,”ungkap Mulyanto, dalam siaran pers nya, Kamis (27/7/2023).

Mulyanto memperkirakan, hadirnya LPG 3 kg non subsidi itu akan meningkatkan tindak penyalahgunaan LPG 3kg bersubsidi oleh pihak tertentu. Mengingat, selisih harga jualnya sangat besar.

Baca Juga: Berantas Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat, Anggota DPR RI M Yahya Zaini Bersama BPOM Gelar Sosialisasi KIE

"Dimana, saat ini Pertamina menjual LPG 3 kg merek bright seharga Rp56.000 terbatas di Jakarta dan Surabaya. Sementara gas melon 3 kg bersubsidi sebesar Rp20.000,"katanya.

Dijelaskan Mulyanto, selama ini salah satu modus penyimpangan gas melon bersubsidi yang ditemukan aparat adalah pengoplosan, yaitu dengan memindahkan isi gas elpiji dari tabung melon 3 kg bersubsidi ke dalam tabung 12 kg non subsidi. Modus ini tidak lain mengubah dari barang bersubsidi dijual menjadi barang non-subsidi yang berharga mahal.

“Adanya produk gas elpiji Bright berwarna pink berukuran 3 kg non subsidi ini, yang sama persis dengan gas melon 3 kg bersubsidi, akan semakin memudahkan pengoplosan. Apalagi marjinnya (selisih harganya) besar, mencapai Rp36.000 per tabung. Pengoplosan bisa semakin marak,"tambahnya.

Menurut Mulyanto, dari ukuran gas yang berbeda saja kerap terjadi pengoplosan gas elpiji. Apalagi kalau barang dan ukurannya serupa, hanya merubah warna tabung dari warna hijau melon ke warna pink saya, maka akan berubah dari barang bersubsidi menjadi barang non-subsidi. Ini tentu semakin rawan.

“Ini kan bentuk dualitas produk. Dimana komoditas yang sama, dijual dengan harga yang berbeda. Yang satu bersubsidi dan yang lain non-subsidi," jelasnya.

Baca Juga: Disahkan Jadi UU, Komisi II DPR RI Sepakati Perppu Pemilu Dibawa ke Rapat Paripurna

Sebagai informasi, di tengah harga gas LPG dunia yang terus merosot hampir setengahnya sejak puncaknya di awal tahun 2022, harga LPG di Indonesia tetap bertahan.

Kenyataan di lapangan malah justru muncul kelangkaan gas LPG 3 kg dengan harga yang melejit. Sebagaimana terjadi di daerah seperti Balikpapan, Makasar, Bali, Banyuwangi, sumbar, dan lainnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Rudiyanto Mocosik

Sumber: dpr.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X