nasional

Ciri Ciri Orang Bodoh dan Penyebabnya Menurut Abu al Laits As Samarqandy

Sabtu, 23 Maret 2024 | 19:12 WIB
Ciri ciri orang bodoh dan penyebabnya menurut Abu al Laits As Samarqandy (kemenag.go.id)

Ciri ciri ketiga, memberikan atau menempatkkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Sebagai makhluk yang berakal dan berhatinurani, hendaknya memberikan sesuatu kepada orang yang tepat. Jangan berikan anak kecil mainan berupa pisau atau korek api yang bisa membahayakan diri anak tersebut atau orang lain. Bisa pula dipahami, termasuk orang bodoh jika kita menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Alangkah tidak bijak mengenakan baju renang saat belanja ke mall.

Ciri ciri keempat, mengumbar rahasia kepada siapapun.

Rahasia yang kita ketahui hendaknya tidak dibuka kepada orang lain. Apalagi rahasia itu menyangkut aib atau keamanan saudara kita. Bukankah muslim yang baik adalah ketika dia mampu menutupi aib saudaranya sendiri? Rahasia yang kita ketahui adalah "amanah" sosial dan spiritual.

Tentu memiliki risiko jika kita membocorkan rahasia kepada orang yang tidak berhak tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan. Bukankah banyak pertikaian terjadi dalam sejarah kemanusiaan disebabkan oleh rahasia yang bocor?

Ciri ciri kelima, mudah percaya kepada siapapun.

Tidak semua orang bisa dipercaya untuk mengemban amanah dengan baik. Karenanya, merupakan sebuah kebodohan jika kita mempercayakan sesuatu kepada orang-orang yang kita tidak tahu track record-nya. Istilah mudahnya, jangan pernah percaya kepada orang untuk menyimpan harta kepada seorang pencuri.

Jangan pernah percayakan jabatan publik kepada seorang pengkhianat. Dengan lugas Abu al Laits menyebut orang yang mempercayai semua jenis manusia tergolong orang orang bodoh.

Baca Juga: 10 Manfaat Menakjubkan Kunyit untuk Kesehatan Anda

Ciri ciri Keenam, tidak mampu membedakan mana teman dan mana musuh.

Coba bayangkan jika dalam keadaan perang, kita tidak bisa membedakan mana kawan, mana lawan, pasti akan terjadi kekacauan, bahkan kekalahan. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita "merasa" tidak memiliki musuh, tetapi paling tidak kita bisa mengenali sesiapa yang perlu kita berikan respek lebih dengan orang yang cukup dihargai saja.

Artinya, sikap dan perilaku kita kepada orang lain diperlukan kemampuan untuk membaca situasi, agar tidak terjebak dalam kebodohan yang tidak faedah.

Semoga di bulan suci Ramadhan ini, kita tidak termasuk salah satu golongan yang memiliki karakteristik seperti disebutkan Abu al Laits As Samakarqandy tersebut. Aamiin Ya'Robbal Alamiin.***

Halaman:

Tags

Terkini