"Yang penting bukan pengakuan, tetapi dampak positif yang bisa kita berikan kepada masyarakat," jelasnya.
Sebagai mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Wali Kota Eri mengungkapkan bahwa menurut penilaian Kementerian Komunikasi dan Informatika, Surabaya sudah diakui sebagai Smart City.
"Kementerian Kominfo juga sudah menilai Surabaya sebagai Smart City. Namun, ketika ada penilaian dari pihak luar negeri, kita tidak tahu bagaimana penilaiannya dilakukan dan daerah mana yang menjadi fokus penilaiannya. Jadi semuanya tergantung pada penilaian yang dilakukan," ungkapnya.
Meskipun begitu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi merasa bangga jika daerah lain dapat masuk dalam daftar Smart City versi penilaian luar negeri. Baginya, lebih baik jika gelar Smart City diberikan secara bergantian kepada daerah lain di Indonesia.
Baca Juga: Kemenag Mengumumkan Madrasah English Community (MRC) Secara Offline di Kediri
"Dengan demikian, kita dapat menunjukkan bahwa semua daerah di Indonesia adalah Smart City dan memberikan pelayanan yang baik. Saya tidak ingin melihat ini sebagai persaingan, tetapi sebagai dukungan saling-menyaling di antara kita. Saya juga bangga ketika Makassar dan Medan masuk dalam daftar Smart City. Mungkin suatu saat, gelar tersebut akan kembali kepada Surabaya,"pungkas Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.
Dengan harapan dan tekad yang kuat, Wali Kota Surabaya tetap fokus pada visi dan misinya untuk membawa Surabaya menjadi kota yang modern, berdaya saing, dan memberikan kemakmuran bagi seluruh masyarakatnya melalui digitalisasi dan inovasi yang berkelanjutan.***