MOCOSIK.COM — Dalam dinamika pertemanan dan lingkungan sosial, muncul fenomena yang kian sering menjadi sorotan publik, yakni orang-orang yang merasa tersakiti lalu berbalik menjatuhkan teman sendiri.
Biasanya, orang tersebut dikenal di kalangan netizen sebagai“Barisan Sakit Hati", kelompok ini tak hanya menyimpan luka, tapi juga membentuk strategi untuk menyerang secara halus maupun terbuka.
Fenomena ini tak terbatas pada kalangan tertentu. Mulai dari organisasi, komunitas, pekerja kantoran, hingga tokoh publik, semua berpotensi mengalami atau menjadi bagian dari pola relasi beracun ini.
• Dari Kekecewaan Menjadi Serangan
Ketua DPC Serikat Jurnalis Nusantara (SJN) Jombang, M. Nur Rudiyanto mengatakan, bahwa motif utama dari tindakan menjatuhkan teman seringkali berasal dari kekecewaan mendalam.
Baca Juga: Ketua DPC SJN Jombang: Momen May Day untuk Jurnalis Stop Rilis Pesan Manis
"Ketika seseorang merasa disingkirkan, diremehkan, atau tidak mendapat pengakuan yang layak, rasa sakit itu bisa berkembang menjadi keinginan membalas,"jelasnya.
Alih-alih diselesaikan melalui komunikasi sehat, kekecewaan ini kerap dipupuk menjadi kemarahan yang kemudian disalurkan melalui sindiran, penyebaran cerita sepihak, bahkan manipulasi opini di lingkungan sekitar.
"Yang membuatnya kompleks, adalah dilakukan oleh orang dalam mereka yang tahu kelemahan, masa lalu, dan titik lemah temannya,"tambah Rudiyanto.
• Studi Kasus: Rusaknya Sebuah Tim
Seperti di sebuah perusahaan kreatif di Jakarta, seorang mantan rekan kerja yang merasa ide-idenya tidak diakui memilih hengkang dari tim.
Bahkan, beberapa minggu setelahnya, muncul kritik anonim di media sosial yang membocorkan informasi internal dan menyerang kredibilitas mantan rekannya tersebut.
Meski tak ada bukti langsung, banyak anggota tim menduga kuat pelakunya adalah orang dalam yang merasa kecewa dan tidak dihargai.