MOCOSIK.COM - Dalam setiap rezim, baik di level pusat maupun daerah, selalu ada kelompok yang menempatkan diri sebagai pendukung fanatik pemerintah.
Mereka kerap tampil di ruang publik dengan wajah seolah menjadi penjaga gawang,dan membela setiap kebijakan tanpa reserve.
Sekalipun kebijakan itu jelas, maka menimbulkan kontroversi atau merugikan masyarakat.
Fenomena ini menunjukkan hadirnya loyalis tanpa kritis: sebuah sikap yang mengedepankan kepatuhan, bahkan kepujian, ketimbang analisis objektif.
Para loyalis ini lebih sering menutup telinga terhadap kritik, menafsirkan oposisi sebagai ancaman, dan membungkus keberpihakan mereka dengan dalih menjaga stabilitas.
Baca Juga: Klinik Juragan 99 Dikirimi Kain Kafan Hingga Barang Mistis, Pegawai Terguling dan Kesurupan
Padahal, demokrasi sejatinya memerlukan ruang kritik yang sehat. Pemerintah yang hanya dikelilingi oleh “yes man” akan rentan terjebak dalam zona nyaman.
Kebijakan publik yang lahir pun bisa kehilangan kualitas, sebab tidak melalui uji gesekan dengan perspektif berbeda.
Dalam praktiknya, loyalis tanpa kritis sering muncul dari kalangan birokrat, politisi partai pendukung, bahkan sebagian jurnalis dan influencer.
Mereka cenderung memoles kebijakan pemerintah dengan narasi hiperbolis, menyebut keberhasilan kecil seolah prestasi monumental, atau menutup-nutupi kegagalan dengan jargon nasionalisme.
Bahaya terbesar dari pola ini adalah hilangnya kontrol sosial. Ketika kritik dibungkam dan perbedaan dianggap ancaman, maka yang lahir adalah otoritarianisme dalam bungkus demokrasi.
Bahkan masyarakat yang mestinya menjadi subjek pembangunan, justru berubah menjadi objek propaganda.
Oleh karena itu, publik harus mewaspadai fenomena ini. Loyalitas pada pemerintah bukan berarti menutup mata pada kesalahan.
Artikel Terkait
Kakor Binmas Baharkam Polri Tinjau PPGD 2023 di Polres Batu Malang
Cara PPATK Telusuri Harta Ilegal dengan Tuntas
Klinik Juragan 99 Dikirimi Kain Kafan Hingga Barang Mistis, Pegawai Terguling dan Kesurupan
Mengenal Lumba-lumba Air Tawar Asli Indonesia yang Terancam Punah
Spiritualitas Kekuasaan dan Politik dengan Karakter Pemimpin yang Beretika