Spiritualitas Kekuasaan dan Politik dengan Karakter Pemimpin yang Beretika

photo author
Jagad Hanugrah, Mocosik
- Minggu, 23 Maret 2025 | 12:09 WIB
Ilustrasi Spiritualitas Kekuasaan dan Politik (reportase7.com)
Ilustrasi Spiritualitas Kekuasaan dan Politik (reportase7.com)

 

MOCOSIK.COM - Teori yang pernah diungkapkan oleh Lord Acton, yakni seorang politisi Inggris abad 19: "power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely" (kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan absolut korupsi secara absolut), itu bukanlah isapan jempol belaka.

Pasalnya, ini nyata dan benar-benar warning bahwa kekuasaan itu memang khalayak seperti orang yang sedang dilanda mabuk akan duniawi.

Terkadang, seseorang bisa terlena dan bisa lupa siapa dia sesungguhnya. Bahkan, seseorang bisa terjebak ke dalam lembah yang paling nista.

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali berpesan kepada para penguasa, seperti sultan, raja, presiden, gubernur, bupati, wali kota, atau siapapun yang memiliki akses kekuasaan, agar tetap berhati-hati menggunakan kekuasaannya.

Baca Juga: Cara PPATK Telusuri Harta Ilegal dengan Tuntas

Kekuasaan adalah sumber kekuatan yang bisa diarahkan untuk berbagai kepentingan. Melalui kekuasaannya itu, maka seseorang bisa melakukan apapun yang dia mau.

Dalam kitab Al-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk, Al-Ghazali memberikan catatan kepada para penguasa dengan mengutip sebuah hadits Nabi yang berbunyi: "Keadilan penguasa meski hanya satu hari lebih aku senangi ketimbang beribadah selama 70 tahun".

Tokoh sufi abad 12 M, ini sangat konsen terhadap pentingnya para penguasa yang berperilaku adil dengan tidak menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Bahkan, Al-Ghazali juga mengkritik keras koleganya sendiri, termasuk sesama pejabat pemerintah yang sikapnya menjadi sebab kerusakan rakyat dan juga penguasa.

Ia berkata: "Kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa dan rusaknya penguasa, itu karena rusaknya para pejabat. Sementara, rusaknya para pejabat, itu karena kecintaan mereka pada harta dan kedudukan.

Sehingga, barang siapa yang terperdaya akan kecintaan terhadap dunia, maka dia tidak akan kuasa mengawasi hal-hal yang remeh (kecil) dan bagaimana pula dia hendak melakukannya kepada penguasa dan perkara besar?". Hal ini diungkapkannya sampai dua kali dalam karya magnum opusnya, Ihya' Ulum al-Din.

Perhatian Al-Ghazali terhadap para penguasa, itu karena mereka memiliki kemampuan untuk mengendalikan area di publik. Posisinya pun sangat strategis, sehingga perlu dikontrol, diingatkan dan diberi warning secara terus menerus, agar mereka tidak lupa terhadap amanah yang dipercayakan di pundaknya.

Spiritualitas Kekuasaan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jagad Hanugrah

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X