Spiritualitas Kekuasaan dan Politik dengan Karakter Pemimpin yang Beretika

photo author
Jagad Hanugrah, Mocosik
- Minggu, 23 Maret 2025 | 12:09 WIB
Ilustrasi Spiritualitas Kekuasaan dan Politik (reportase7.com)
Ilustrasi Spiritualitas Kekuasaan dan Politik (reportase7.com)

Jabatan dan kekuasaan adalah dua media yang saling berkaitan. Ketika seseorang memiliki jabatan, maka secara otomatis memiliki kewenangan-kewenangan tertentu yang disebut kekuasaan.

Nah, bagaimana tentang spiritualitas kekuasaan itu? berikut uraiannya:

1. Penguasa adalah "wakil" Tuhan di muka bumi.

Jika kita lacak dalam referensi teologis, manusia di bumi adalah mandataris Tuhan (khalifah) yang mengemban tugas suci sebagai makhluk spiritual. Apalagi, dalam posisi sebagai seorang penguasa (pejabat) yang memiliki banyak akses politik.

Guru besar UIN Jogjakarta, Abdul Munir Mulkhan menjelaskan, bahwa kekuasaan itu bukan sekedar wilayah materiil untuk menduduki sebuah jabatan, seperti presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, atau semacamnya.

Akan tetapi, kekuasaan yang memiliki kewenangan politik diperlukan ranah spiritual sebagai ruh, sebagai energi yang membuat kekuasaan menjadi dinamis, indah, memiliki vitalitas dan daya hidup, pengikat komunitasnya.

Menurutnya, menduduki jabatan bukan untuk membungkam lawan politiknya atau orang-orang yang tidak disukai. Sebaliknya, kekuasaan adalah harmonisasi untuk menyatukan beragam komunitas bagi tujuan kemanusiaan yang lebih besar dari sekedar kepentingan fisik materiil.

Lalu muncul pertanyaan, bisakah seseorang yang sedang berkuasa dapat memberikan tempat bagi siapa pun dan ruang untuk berteduh? 

Baca Juga: Prabowo Bertemu Utusan Khusus Palestina, Terima Laporan Situasi Terkini

Dalam konteks spiritual ini, tentunya seorang penguasa harus mampu menjadi pengayom di semua elemen sosial. Bahkan menjadi pelindung bagi kehidupan di sekitarnya, termasuk lingkungan.

Artinya, orang yang memiliki kekuasaan harus mampu mengarahkan apa yang dikuasai menuju kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai spiritual dalam statusnya sebagai "Wakil" Tuhan di muka bumi ini.

2. Amanah (kepercayaan) yang dimiliki penuh oleh seorang penguasa menyiratkan adanya hubungan keilahian.

Secara kebahasaan, amanah berasal dari kata "amana" yang memiliki kesamaan makna dengan "iman" atau keyakinan. Disisi lain, unsur spiritualitas amanah bagi penguasa sangat mendalam, karena terdapat aspek keyakinan (keimanan).

Maestro sufi Jalaluddin Rumi menyebut, jika amanah sebagai pemberian tanggung jawab, dan mempunyai kemampuan manusia mengenal aspek-aspek ruhaniah dan mengembangkannya.

Baginya, orang yang melupakan atau meninggalkan amanah tersebut berada dalam posisi yang berbahaya. Mereka seperti berlari mengejar ratusan perburuan yang berbeda, dengan tidak peduli pada pemberian Ilahi yang indah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jagad Hanugrah

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X