Setiap muslim pasti menginginkan masuk surga dan tidak ada yang ingin masuk neraka. Namun, apakah semua manusia akan masuk surga? Bagaimana dengan mereka yang selama hidupnya melakukan keburukan? Apakah mereka bisa menikmati surga? Bagaimana pula dengan mereka yang kebaikan dan keburukan seimbang? Apakah mereka akan masuk surga atau neraka?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dipahami agar seseorang dapat memaksimalkan hidupnya untuk meraih penghargaan di akhirat. Surga adalah penghargaan tertinggi, sedangkan neraka adalah nestapa atau kehinaan di hari akhir. Keduanya akan menjadi tempat persinggahan terakhir bagi manusia. Namun, ada satu tempat yang letaknya di tengah-tengah antara surga dan neraka, yaitu A'raf.
Dalam Kitab Bidayah Wa an-Nihayah dijelaskan bahwa Ashabul A'raf adalah suatu kaum yang kebaikan mereka melampaui neraka dan keburukan mereka kurang dari surga. Jika pandangan mereka dihadapkan kepada penduduk neraka, mereka berkata: "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim." Dan ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah Ta'ala muncul atas mereka lalu berfirman: "Bangkitlah dan masuklah ke dalam surga, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian."
Sufyan Ats Tsauri mengatakan bahwa Ashabul A'raf adalah sekelompok orang yang amal kebajikan dan keburukannya seimbang. Lalu mereka dibawa ke sebuah sungai yang bernama sungai kehidupan yang debunya adalah waras dan za'faran, kedua tepinya adalah emas berlapis permata, lalu mereka mandi padanya hingga tampak pada punggung mereka tanda putih kemudian mereka mandi lagi hingga tampak semakin putih, kemudian dikatakan kepada mereka: "Pikirkanlah apa yang kalian inginkan." Lalu mereka pun memikirkan sesuatu sesuka hati mereka, lalu dikatakan kepada mereka: "Kalian diberikan apa yang kalian inginkan dan dilipatgandakan sebanyak tujuh kali." Mereka itulah orang-orang miskin dari kalangan penduduk surga.
Namun, manusia tidak tahu di mana tempat persinggahannya nanti, apakah di surga, neraka, atau A'raf. Yang pasti, hari akhir akan tiba tanpa harus menunggu atau menunda. Hanya satu pertanyaan, seberapa siap diri ini untuk menghadapinya. Belum terlambat untuk bertaubat dan taat, karena manusia tak tahu seperti apa akhir dari kehidupannya