Tantangan Bahasa dan Budaya
Setiba di Makassar, Kiki tinggal di asrama guru. Hari-hari pertama diisi dengan proses penyesuaian. Nada bicara masyarakat yang keras sempat membuatnya salah tafsir.
"Orang Makassar kalau bicara biasa pun nadanya tinggi. Awalnya saya sempat mikir, saya salah apa ya? Tapi ternyata memang itu cara mereka berbicara,"katanya.
Tantangan lain datang saat ia mulai mengajar. Bahasa menjadi penghalang kecil dalam menyampaikan materi matematika.
Ia harus meminta siswa berbicara lebih pelan agar bisa memahami maksudnya. Namun seiring waktu, hubungan mereka semakin cair.
"Siswa-siswa tahu saya dari Jawa. Mereka akhirnya ikut menyesuaikan, berbicara lebih lembut kalau ngobrol sama saya,"tutur Kiki.
Membuat Matematika Jadi Seru
Saat pertama kali masuk kelas, beberapa siswa sempat ragu melihat Kiki mengajar matematika.
"Ih Ibu, kenapa ngajarin matematika? Saya pikir Ibu bukan guru matematika,"ucap Kiki menirukan ucapan siswanya.
Sejak itu, ia berjanji membuat pelajaran matematika menjadi seru dan menyenangkan. Pada fase matrikulasi, ia membagi porsi pembelajaran 50 persen akademik dan 50 persen karakter.
"Kita buat games, tantangan-tantangan kecil. Mereka lebih suka kalau pelajarannya interaktif,"katanya.
Hasilnya, tak ada siswa yang keluar masuk kelas saat pelajaran berlangsung. Bahkan banyak yang berebut maju ke papan tulis.
"Mereka senang ditantang. Walau cuma penjumlahan sederhana, mereka antusias,"ujarnya.
Kiki juga memberi perhatian khusus kepada siswa yang memiliki keterbatasan intelektual. Ia menyediakan waktu tambahan untuk mendampingi.
"Yang penting anak itu merasa ikut berpartisipasi dan bahagia di kelas matematika,"tuturnya.
Artikel Terkait
Pesan Haru Siswi Sekolah Rakyat NTT: Pak Prabowo Bawa Hidup Saya dari Gelap ke Terang
Prabowo Harap Lulusan Sekolah Rakyat bisa Angkat Keluarga Keluar dari Kemiskinan
Prabowo ke Guru Sekolah Rakyat: Siapkan Generasi untuk Putus Kemiskinan
Prabowo Realisasikan 100 Sekolah Rakyat dalam 5 Bulan: Target Tahun Depan 200
Sekolah Rakyat Beri Kesan Mendalam untuk Guru: Jadi Motivasi Perjuangkan Pendidikan