Wajah Baru Terorisme Era Digital: Densus 88 Bedah Strategi Gamifikasi Kekerasan Bersama Akademisi

photo author
- Kamis, 21 Mei 2026 | 08:21 WIB
Bedah Buku“Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital”yang menjadi agenda utama Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Antiteror Polri Tahun Anggaran 2026 di Jakarta (Divisi Humas Polri)
Bedah Buku“Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital”yang menjadi agenda utama Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Antiteror Polri Tahun Anggaran 2026 di Jakarta (Divisi Humas Polri)

 

 

JAKARTA, MOCOSIK.COM - Pola penyebaran paham radikal dan terorisme global telah mengalami pergeseran paradigma yang radikal.

Jika dahulu ancaman identik dengan organisasi terstruktur dan doktrin kaku, kini ekstremisme bergerak senyap melalui ruang digital, algoritma, komunitas virtual, hingga memanfaatkan kerentanan psikologis generasi muda.

Fenomena baru tersebut dikupas tuntas dalam acara Bedah Buku“Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital”yang menjadi agenda utama Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Antiteror Polri Tahun Anggaran 2026 di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Forum strategis ini dihadiri langsung oleh Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, dan Kadensus 88 AT Polri Irjen Pol. Sentot Prasetyo, serta lintas pakar dari disiplin psikologi, hukum, teknologi, hingga perlindungan anak. 

Baca Juga: Buka Rakernis Densus 88, Kapolri Berikan Penghargaan dan Bantuan Modal Usaha ke Eks Narapidana Teroris

Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa perubahan pola ancaman ini wajib direspons dengan transformasi cara berpikir (*mindset*) dan strategi pencegahan oleh aparat penegak hukum.

"Kita menghadapi ancaman yang bergerak melalui ruang digital, algoritma, dan fragmen ideologi yang sulit dipetakan. Negara tidak boleh hanya hadir saat api sudah membesar; pencegahan sosial harus hadir lebih awal, sedangkan penegakan hukum menjadi langkah terakhir yang terukur,"katanya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono menekankan pentingnya sinergi nasional lintas sektor.

Menurutnya, membentengi masyarakat dari radikalisme digital tidak bisa hanya bertumpu pada satu institusi keamanan, melainkan harus melibatkan dunia pendidikan, keluarga, hingga penyedia platform digital.

Sementara itu, Kadensus 88 AT Polri Irjen Pol. Sentot Prasetyo memastikan jajarannya terus menajamkan strategi yang lebih adaptif dan prediktif.

"Ancaman kini lebih cair, personal, dan berawal dari paparan digital yang tidak terdeteksi. Fokus kami adalah penguatan deteksi dini terhadap anak dan remaja selaku kelompok paling rentan,"ungkap Irjen Pol. Sentot. 

Dalam sesi bedah buku, para akademisi lintas disiplin memberikan perspektif dan catatan kritis mengenai karakteristik terorisme modern yang memanfaatkan kemajuan teknologi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Rudiyanto Mocosik

Sumber: Divisi Humas Polri

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X