Pada kesempatan yang sama, Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra, menjelaskan anatomi kelistrikan Sumatera yang bertumpu pada dua jalur utama koridor timur 500 kV dan koridor barat 275 kV.
Hantaman hujan lebat disertai angin kencang malam itu memicu fenomena *power swing* atau osilasi tegangan dan frekuensi yang sangat tinggi secara mendadak. Akibatnya, sistem kelistrikan Sumatera terbelah menjadi dua kompartemen.
Wilayah selatan mengalami kelebihan pasokan daya (surplus), sedangkan wilayah utara mengalami defisit daya akut yang memicu runtuhnya sistem interkoneksi secara berantai.
PLN langsung bergerak melakukan mitigasi darurat melalui mekanisme black start menggunakan pembangkit diesel dan gas skala lokal, disusul penormalan bertahap pada PLTGU dan PLTU.
"Per hari ini, seluruh sistem kelistrikan Sumatera telah kembali normal 100 persen dan beroperasi dengan aman, andal, serta stabil. Pembangkit-pembangkit besar sudah masuk kembali ke sistem untuk menjamin pasokan listrik masyarakat aman ke depan,"pungkas Edwin.***