Siswa MTsN 2 Kota Surabaya Temukan Detektor Dini Disleksia, Selengkapnya Baca Disini

photo author
- Kamis, 5 September 2024 | 20:29 WIB
Dua siswa yang duduk dibangku sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kota Surabaya, menemukan alat detektor dini disleksia (kemenag.go.id)
Dua siswa yang duduk dibangku sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kota Surabaya, menemukan alat detektor dini disleksia (kemenag.go.id)

 

TERNATE, MOCOSIK.COM - Dua siswa yang duduk dibangku sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kota Surabaya, menemukan alat detektor dini disleksia.

Disleksia adalah, kondisi dimana seorang anak mengalami kesulitan memahami sesuatu, ditandai kesulitan membaca dan menulis.

Menurut data Dyslexia Center Indonesia (2019), Disleksia menjadi masalah yang cukup umum di Indonesia, yakni dengan prevalensi 10 persen.

Baca Juga: Cegah Aksi Bullying di Sekolah, Polri Luncurkan Program Official Hospital Anti Bullying

Vira Wardati, salah satu guru pembimbing penelitian ini mengatakan, pada setiap kelas yang berisi 30 anak. Biasanya ada 2-3 yang sebenarnya menderita disleksia dan kebanyakan dari mereka tidak ketahuan, sehingga tidak dilakukan terapi.

"Tanda-tanda anak disleksia itu waktu kecil, mereka terlambat bicara dan biasanya saat usia sekolah kesulitan diajari menulis,"katanya di Ternate, Kamis (5/9/2024).

Penelitian siswa MTsN 2 Kota Surabaya ini bertajuk "Implementasi Metode Neural Network dan Elektroensevalografi pada Rancang Bangun Aplikasi Deteksi Disleksia Berbasis Mobile (DMD)".

Dengan temuan alat detektor dini disleksia ini, maka penderita disleksia dapat dideteksi secara instan tanpa melalui rangkaian tes yang melelahkan, sebagaimana selama ini ditempuh oleh para psikolog.

Adapun peneliti yang terlibat tersebut, adalah dua siswi kelas IX bernama Fathi Zahiya (14) dan Nur Maisyah Ilmira (14).

Tentunya, temuannya ini menjadi salah satu finalis di ajang Madrasah Young Researcher Supercamp (MYRES) 2024, yang digelar Kementerian Agama. Dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) di Ternate, Maluku Utara, pada 3 - 7 September 2024.

Di ajang Expo MyRes di Hotel Bela Ternate (5/9/2024), salah satu peneliti, Fathi Zahiya menjelaskan, bahwa otak manusia memiliki gelombang alfa, beta, delta, gama dan theta.

"Gelombang-gelomang itu dapat dideteksi dari permukaan otak dengan alat yang bernama elektroensefalografi (EEG) yang dapat mengukur amplitudonya,"terangnya.

Menurut Fathi Zahiya, pada penderita disleksia, selalu gelombang beta dan gama-nya tidak beraturan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Rudiyanto Mocosik

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X