Disperta Jombang Siapkan Strategi Hadapi Ancaman El Nino 2026

photo author
- Senin, 20 April 2026 | 12:25 WIB
Rapat koordinasi Disperta Jombang waspadai El Nino 2026 (dok.istimewa)
Rapat koordinasi Disperta Jombang waspadai El Nino 2026 (dok.istimewa)

 

 

JOMBANG, MOCOSIK.COM – Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan pada musim kemarau 2026.

Langkah ini diambil menyusul prediksi fenomena BMKG terkait kemunculan El Nino yang dapat menurunkan curah hujan dan berdampak pada sektor pertanian, terutama padi.

Kepala Disperta Jombang, melalui Kabid Perlindungan Pascapanen dan Pemasaran Hasil Pertanian, Ahmad Jani Masyhudi, menyampaikan bahwa El Nino diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun dengan intensitas relatif lemah. Meski begitu, potensi dampaknya tetap harus diantisipasi sejak awal.

"Penurunan curah hujan diprediksi berkisar 20 hingga 40 persen. Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung antara Juli sampai September 2026, yang bisa mengganggu musim tanam kedua dan ketiga,"terangnya. 

Baca Juga: Perkuat Ekosistem Agribisnis, Dinas Pertanian Jombang Gelar Temu Bisnis dan Pelatihan Kelembagaan 2025

Ia menjelaskan, pola tanam padi di Jombang terbagi dalam tiga musim, yakni musim hujan (November–Maret), kemarau pertama (April–Juli), dan kemarau kedua (Agustus–Oktober). Dari ketiganya, musim tanam kedua dan ketiga dinilai paling rentan terdampak El Nino.

Selain faktor cuaca, ancaman kekeringan juga dipengaruhi pekerjaan infrastruktur irigasi. Di antaranya rehabilitasi Dam Jatimlerek di Kecamatan Plandaan serta perbaikan saluran irigasi Mrican Kanan yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

“Untuk area yang terdampak perbaikan irigasi, kami sarankan petani tidak menanam padi pada musim tanam ketiga,"tegasnya.

Sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Megaluh, sebagian Tembelang, Peterongan, hingga Kesamben.

Selain itu, daerah irigasi Siman yang mengairi ribuan hektare lahan di 12 kecamatan juga menjadi perhatian karena sangat bergantung pada pasokan air.

Berkaca pada tahun sebelumnya, kekeringan sempat melanda beberapa wilayah seperti Sumobito, Peterongan, Perak, dan Gudo. Bahkan, sebagian lahan mengalami puso atau gagal panen.

Sebagai langkah antisipasi, Disperta telah menyiapkan sejumlah strategi, seperti percepatan masa tanam saat masih tersedia hujan, optimalisasi tampungan air seperti embung dan waduk, serta penyediaan sarana irigasi tambahan berupa sumur dan pompa air.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Rudiyanto Mocosik

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X