Fenomena Gunung Es Radikalisme Anak! Wakapolri Dorong Strategi Perlindungan, Bukan Penindakan Dini

photo author
- Kamis, 21 Mei 2026 | 11:42 WIB
Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo menegaskan bahwa ancaman terorisme modern telah bergeser dari pola terstruktur menjadi jejaring digital yang cair, adaptif, dan sulit dikenali (Divisi Humas Polri)
Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo menegaskan bahwa ancaman terorisme modern telah bergeser dari pola terstruktur menjadi jejaring digital yang cair, adaptif, dan sulit dikenali (Divisi Humas Polri)

Wakapolri juga mengapresiasi sejumlah capaian masif Ditcegah Densus 88 yang telah berjalan di lapangan, meliputi:

1. Penguatan Direktorat PPA-PPO (Perlindungan Perempuan dan Anak - Penghentian Perundungan dan Otopsi Sosial) di 11 Polda dan 22 Polres.
2. Program edukasi literasi digital di 90 SMAN DKI Jakarta yang menjangkau 31.234 siswa serta 1.300 guru dan orang tua.
3. Program Ratakan Bali Pro Max di 70 sekolah dengan total 9.950 peserta.
4. Penerbitan 70 surat edaran pembatasan penggunaan gawai (gadget) di sekolah yang tersebar di 33 provinsi.

Di akhir arahannya, Wakapolri mengingatkan bahwa model ancaman kontemporer yang terfragmentasi, atau dikenal dengan istilah Composite Violent Extremism (CoVE) tidak akan bisa diselesaikan oleh kepolisian sendirian.

Selain itu, Polri membutuhkan collaborative approach (pendekatan kolaboratif) utuh yang melibatkan lintas kementerian, pemerintah daerah, akademisi, hingga penyedia platform digital.

"Negara tidak boleh hanya datang saat api sudah membesar; pencegahan sosial harus hadir lebih awal, sedangkan penegakan hukum menjadi langkah terakhir yang terukur,"pungkas jenderal bintang tiga tersebut menetapkan arah baru Transformasi Polri 2025–2045.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Rudiyanto Mocosik

Sumber: Divisi Humas Polri

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X