Wakapolri juga mengapresiasi sejumlah capaian masif Ditcegah Densus 88 yang telah berjalan di lapangan, meliputi:
1. Penguatan Direktorat PPA-PPO (Perlindungan Perempuan dan Anak - Penghentian Perundungan dan Otopsi Sosial) di 11 Polda dan 22 Polres.
2. Program edukasi literasi digital di 90 SMAN DKI Jakarta yang menjangkau 31.234 siswa serta 1.300 guru dan orang tua.
3. Program Ratakan Bali Pro Max di 70 sekolah dengan total 9.950 peserta.
4. Penerbitan 70 surat edaran pembatasan penggunaan gawai (gadget) di sekolah yang tersebar di 33 provinsi.
Di akhir arahannya, Wakapolri mengingatkan bahwa model ancaman kontemporer yang terfragmentasi, atau dikenal dengan istilah Composite Violent Extremism (CoVE) tidak akan bisa diselesaikan oleh kepolisian sendirian.
Selain itu, Polri membutuhkan collaborative approach (pendekatan kolaboratif) utuh yang melibatkan lintas kementerian, pemerintah daerah, akademisi, hingga penyedia platform digital.
"Negara tidak boleh hanya datang saat api sudah membesar; pencegahan sosial harus hadir lebih awal, sedangkan penegakan hukum menjadi langkah terakhir yang terukur,"pungkas jenderal bintang tiga tersebut menetapkan arah baru Transformasi Polri 2025–2045.***
Artikel Terkait
Polri Resmi Larang Live Streaming Saat Bertugas, Anggota Diminta Lebih Disiplin di Medsos
Polri Wanti-Wanti Penipuan Tiket Nobar dan Judi Bola Jelang Piala Dunia 2026
Polri dan BI Musnahkan 466 Ribu Lembar Uang Palsu, Perkuat Pengawasan Rupiah
Dari Tongkol Jagung Jadi Briket, Prabowo Puji Inovasi Polri di Sektor Pangan
Modus Tour ke Tiongkok, Satgas Haji Polri Gagalkan Pemberangkatan 32 Jemaah Ilegal di Bandara Soetta