nasional

Siswa MTsN 2 Kota Surabaya Temukan Detektor Dini Disleksia, Selengkapnya Baca Disini

Kamis, 5 September 2024 | 20:29 WIB
Dua siswa yang duduk dibangku sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kota Surabaya, menemukan alat detektor dini disleksia (kemenag.go.id)

"Dari sini saja sudah dapat disimpulkan, bahwa obyek mengalami gangguan disleksia,"ucap siswi cantik tersebut.

Baca Juga: Kemenag Buka Pengajuan Pencairan Dana BOS Madrasah Tahap II Hingga Oktober 2024, Ini Tahapannya

Selanjutnya, simpulan ini kemudian diuji dengan metode epoch selama 20 kali dan akurasinya seratus persen. Selama ini orang tua yang memiliki anak disleksia, akan datang ke psikolog untuk melakukan serangkaian uji.

Biasanya psikolog akan mengamati tanda-tanda umum, seperti kesulitan baca tulis, mengingat warna, kesulitan memahami tata bahasa, sulit mengucapkan kata yang baru dikenal dan lamban memahami sesuatu.

Setelah itu, psikolog memberikan soal ujian yang terbagi dalam beberapa tahap. Setelah hasilnya dianalisa, baru ditarik simpulan final dalam waktu 10 hari.

"Proses ini cukup melelahkan dan terkadang tidak diteruskan hingga tuntas,"lanjut dia.

Di tangan dua siswi MTsN 2 Kota Surabaya ini, maka deteksi disleksia langsung diketahui secara instan.

Caranya, yakni dengan menempelkan beberapa sensor di kepala anak yang dites, kemudian dibaca dengan alat elektroensefalografi (EEG) tadi.

Setelah itu, hasilnya akan menunjukkan grafik semua gelombang otak secara terperinci dalam skala amplitudo.

"Jadi setelah dites langsung keluar hasilnya, dengan hasil skor yang akurat,"ujar Fathi Zahiya.

Menurut guru pembimbingnya, Vira Wardati metode ini belum dipakai oleh para psikolog.

"Sampai saat ini belum ada aplikasi alat ini untuk deteksi disleksia. Para psikolog masih menggunakan tes manual,"jelasnya. 

Baca Juga: Kemenag Terbitkan Pedoman Implementasi Kurikulum Madrasah, Thobib Al Asyhar: Guru Harus Jadi Kreator Pembelajaran

Sekedar diketahui, bahwa perangkat ini disiapkan dalam dua bulan oleh Tim MTsN 2 Kota Surabaya dengan biaya sebesar Rp5 juta. Alat ini hanya detektor, bukan untuk terapi.

Tetapi penting artinya bagi penderita disleksia agar dapat dideteksi sejak dini, sehingga pengobatannya lebih mudah dan perlakuannya lebih tepat.

Halaman:

Tags

Terkini